Tanam Benang vs Tarik Benang

Selama ini masih banyak orang yang belum paham antara metode tanam benang dan tarik benang. Meski kedua-duanya merupakan sama-sama metode peremajaan kulit wajah tanpa operasi dan menggunakan benang untuk pengencangan wajah, namun teknik, jenis benang, dan bentuk bahannya berbeda.

Metode threadlift atau lebih dikenal dengan tanam benang kerap dipakai untuk membuat wajah terlihat lebih muda, seperti mengencangkan kulit dan menghilangkan keriput. Tidak seperti operasi plastik, meremajakan kulit dengan tanam benang tidak membutuhkan banyak tindakan pada jaringan kulit (non invasive). Selain itu, proses pengerjaan dan waktu pemulihannya lebih cepat, prosedurnya tidak menyakitkan serta harganya tidak menguras kantong.

Beda Teknik, Beda Hasil

Namun, ternyata penggunaan istilah threadlift tidak hanya digunakan untuk metode tanam benang, tapi juga bisa dipakai untuk tarik benang mengingat keduanya tetap melibatkan proses penanaman benang pada jaringan di bawah kulit wajah. Menurut Dr. Ricky Jayadi dari POISE  Clinic Jakarta, perbedaan antara tarik benang dengan tanam benang adalah terletak dari sisi benang, teknik, dan kegunaannya.

Metode tanam benang berbahan PDO (Polydioxanone), dengan menanamkan benang tanpa melakukan penarikan pada benang. Teknik yang digunakan adalah U Pattern.  Metode ini memiliki efek rejuvenation (peremajaan) sehingga kulit menjadi lebih kenyal dan efek lifting. Akan tetapi efek lifting untuk metode ini tidak bisa banyak diharapkan.

Sedangkan metode tarik benang menggunakan jenis benang non permanen yang tepinya bergerigi (Anchor atau cone) dan berbahan PLLA (Poly L. Lactic Acid) serta menggunakan beberapa teknik seperti U Pattern dan Anchor Pattern, yaitu benang dimasukan dengan tehnik khusus dibawah lapisan subcutan-smas lalu ditarik keatas dan kulit akan menyangkut sehingga efek lifting bisa didapat. “Metode tarik benang jauh lebih efektif dibandingkan dengan tanam benang,” imbuhnya kembali.

Diakui Dr. Ricky, yang tak kalah penting adalah penggunaan benang non permanen untuk kedua metode ini karena jauh lebih aman dan efektif. Tarik benang dan tanam benang bertujuan agar benang yang dimasukan ke dalam kulit wajah bisa menarik dan mempertahankan posisi kulit agar tidak kendur dan tetap terlihat kencang. “Jika menggunakan benang permanen, benang tersebut tidak akan hancur dan tetap ada di kulit setelah 2-3 tahun, tapi tarikannya jadi berkurang karena jaringan kulit kalah dengan benang permanen tersebut,” ujarnya.

Selain itu, penggunaan benang permanen bisa menimbulkan berbagai reaksi karena sifatnya sama seperti silikon cair. “Benang permanen bukan bahan alami, bersifat tidak mudah hancur, dan dianggap benda asing, kalau benda asing berada di dalam tubuh dalam waktu lama malah bisa menimbulkan berbagai reaksi misalnya membentuk seperti kapsul,” papar Dr. Ricky menjelaskan hal ini. Setelah 2-3 tahun, benang akan diselimuti oleh selaput dan menebal atau membesar sehingga mirip dengan kapsul dan terlihat menonjol keluar.

Prosedur Tarik Benang 

Daya tahan benang tergantung bahan dasar benang yang dipakai. Untuk benang berbahan PDO, maka daya hancurnya kurang dari 240 hari sehingga benang dengan jenis ini dianggap paling mudah lebur. Namun seiring berjalannya waktu, saat ini sudah diluncurkan benang PDO yang sudah dimodifikasi ukuran dan kekuatannya sehingga diperkirakan bisa bertahan 7-10 bulan, bahkan adapula yang bisa bertahan hingga satu tahun. Sedangkan Benang berbahan Polypropilane dan PLLA  diklaim bisa bertahan hingga 2 tahun.

Bagi mereka yang ingin melakukan prosedur tarik benang, biasanya dokter akan menyarankan pasien untuk tidak mengkonsumsi obat pengencer darah atau bahan-bahan yang menyebabkan darah mudah cair seperti vitamin E, Gingkogiloba, Minyak ikan, Omega 3, dan lain-lain. Kompres dingin bisa dilakukan 5 menit sebelum tindakan. tetapi untuk tindakan tarik benang dengan jumlah banyak dan ukuran diameter besar, biasanya dokter menyarankan untuk mengunakan anastesi modified Tumesent untuk mencegah efek hematoma dan nyeri saat pengerjaan.

Sebelum menjalani prosedur tanam benang, dokter akan menyuntik obat bius lokal di area wajah yang ingin diproses. Setelah itu, dokter mulai memasukkan benang khusus ke bawah kulit. Benang yang tertanam di bawah kulit wajah berguna untuk menciptakan efek yang bisa mengangkat kulit dan mengencangkan jaringan lunak wajah. Waktu yang dibutuhkan sekitar 30-60 menit sehingga prosedur  ini sering dianggap sebagai lunch time treatment. Pasca prosedur, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pasien yaitu tidak melakukan facial, dan perawatan wajah seperti chemical peeling selama sebulan.

Yang perlu dipahami adalah meski prosedur ini dianggap non invasive namun tetap ada beberapa efek samping yang bisa saja muncul misalnya seperti asimetris wajah (tarikan yang tak sama kuat), adanya Defek atau dekok pada bagian tertentu  yang biasanya disebabkan karena penempatan benang yang terlalu superficial. Atau adanya sesuatu yang menonjol, diraba seperti jerawat kecil dan ujungnya nyeri. Namun hal itu biasa karena simpul ujung benang yang tidak tertanam dalam dan cara mengatasinya juga  mudah yaitu dengan melakukan incisi dengan jarum no. 11, menarik dengan pinset, dan memotong ujungnya saja, hanya 5 menit semua bisa diatasi.

Selain itu, bisa pula terjadi infeksi pada kulit, mulut miring, atau kelopak mata jatuh. Namun hal ini sebenarnya tidak mengkhawatirkan karena biasanya ini merupakan efek sesaat ketika dilakukan infiltasi anastesi dan  dalam 1-2 jam akan kembali normal.

BOX  Perbedaan Tanam Benang dengan Tarik Benang



WhatsApp WhatsApp us